Jadi Juragan Restoran Tanpa Turun ke Dapur

Bisnis makanan memang tak pernah terlelap. Tiap hari, semakin banyak tawaran membuka bisnis ini. Baik lewat waralaba atau kemitraan.

Salah satu yang tengah getol-getolnya menawarkan kemitraan adalah PT Trirekan Rasa Utama (TRU), pemilik jaringan restoran dan kafe. Direktur Hubungan Investor TRU Miranti mengungkapkan, perusahaannya menawarkan tiga jenis restoran atau kafe. “Ada Dixie Cafe dan Resto, Restoran Mahi-mahi, dan Warung Pasta,” ujarnya.

Ketiga jenis usaha kuliner ini mempunyai kekhasan sendiri. Dixie Cafe dan Resto (Dixie), misalnya. Berdiri 1998, gerai pertama Dixie buka di kawasan Kafe Tenda Semanggi. “Saat itu memang banyak yang melirik bisnis restoran,” ujar Miranti.

Tujuh bulan setelah buka, kafe itu langsung break even point. Tak lama kemudian, TRU kembali membuka gerai di sebuah hotel di Semanggi.

Untuk meluaskan jaringan Dixie, TRU menawarkan kerjasama dengan investor yang tertarik masuk bisnis kuliner. “Bukan sistem waralaba, tapi kemitraan,” ujar Hapsari Diah, Manajer Hubungan Investor TRU.

Lewat sistem ini, investor tinggal menyetor modal, TRU akan mengurus semuanya. “Modalnya Rp 750 juta – Rp 1 miliar,” katanya. Dengan sistem ini, kini Dixie punya empat gerai lagi di Jakarta dan satu di Yogyakarta.

Sistem ini tentu ada plus minusnya. Plusnya, investor tinggal terima beres. Minusnya, si investor sangat tergantung pada pihak TRU, dan jika kerjasama putus investor belum tentu bisa meneruskan usaha itu karena dia tak punya pengalaman mengelolanya sendiri.

TRU juga menawarkan Mahi-mahi, restoran yang khusus menyajikan hidangan laut (seafood) dengan sistem swalayan (ambil dan pilih sendiri). Kekhasan Mahi-mahi terletak pada desain tempat. “Interiornya terbuat dari kayu,” ujar Miranti. Untuk membuka gerai Mahi-mahi, modal sebesar Rp 1 miliar. Kini sudah ada dua gerai Mahi-Mahi di Yogyakarta dan Tangerang.

Balik modal tiga tahun

Tawaran terakhir dari TRU adalah Warung Pasta yang menawarkan aneka olahan pasta. Mulai pasta yang creamy versi Italiano hingga pasta buatan warung yang sarat bumbu dan rempah yang spicy.

Saat ini, selain di Kemang, Warung Pasta sudah ada di Karawaci Junction dan Bandung. Jika tertarik menjadi investor, Anda harus merogoh kocek sebanyak Rp 500 juta.

Dengan menyetor modal ke TRU, Anda bisa memiliki satu gerai sesuai keinginan Anda. Modal itu belum termasuk tempat usaha. “Boleh sewa maupun punya sendiri,” ujar Miranti.

Selanjutnya TRU akan membuat dan mengelola gerai Anda. Mulai dari penyediaan furnitur plus peralatan masak dan dapur, termasuk biaya operasional antara lain biaya listrik, telepon, perizinan, pelatihan, dan promosi selama tiga bulan.

Yang menarik, Anda tak harus membayar modal awal sekaligus. Bisa memakai sistem termin. Di awal, cukup bayar setengahnya, sisanya setelah gerai siap beroperasi.

Di luar itu, Anda harus membayar beberapa biaya. Seperti, commitment fee Rp 30 juta, dibayar di muka ketika kedua belah pihak setuju bekerjasama. Tiap bulan, TRU juga memungut royalty fee 5% dari total omzet dan management fee sebesar 30% dari keuntungan bersih sebulan. Itu berarti keuntungan untuk investor adalah 70% dari laba bersih. “Kalau merugi, tidak perlu membayar,” ujar Miranti.

Setiap bulan, investor akan mendapatkan laporan keuangan hasil operasional restoran. “Tiap tanggal 15, kami akan kasih dua laporan laba-rugi dan hasil penjualan,” ujar Miranti.

Soal balik modal, TRU memperkirakan butuh tiga tahun. “Tapi rata-rata sembilan bulan sudah balik modal, malah rekor tercepat enam bulan,” ujarnya. (Lamgiat Siringoringo/Kontan)

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Antara Creative Marketing,Software Developer,dan Berdagang

Ada 3 hal di dunia ini yang menarik diri saya sedemikian dalam,yaitu Strategi Marketing& Bisnis,Software Developer,lalu berdagang.berdagang adalah kegiatan yang saya lakukan dari semenjak usia 4 tahun,saya dari umur 4 tahun sudah diajari untuk berdagang oleh bapak saya,namun berdagang tidaklah semenarik seperti 2 lainya,dan diantara ketiga hal itu,yang paling menarik diri saya lagi adalah dunia strategi marketing,bisnis.sungguh amat menarik mengamati menganalisa setiap gerak-gerik eksekusi marketing dari pemain-pemain pasar yang sedang memperebutkan konsumen,lalu memperhatikan setiap strategi iklan-iklan dari setiap produsen,sebagai “serangan balik” dari eksekusi strategi marketing…..saya harus bisa menguasai ketiga bidang ini secepatnya

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mengejar Ketertinggalan Diri

Hanya 4 kata untuk mendeskripsikan keadaan keuangan saya saat ini yaitu “Kemana Aja lo ron??”, gila!…ternyata apa yang saya kerjakan dan apa yang saya pikirkan,telah dilakukan oleh teman-teman saya paling tidak 5 hingga 6 tahun yang lalu,bahkan ad yang hingga 10 tahun yang lalu,jadi paling tidak,saat ini saya tertinggal 10 tahun,secara sosial,finansial dan technical.Untuk mengejar nya jelas memerlukan sebuah usaha yang fokus dan sungguh-sungguh.saya tentu nya juga tidak bisa sekedar “mengejar”,karena perkembangan dunia sangat begitu cepat,sehingga saya harus benar-benar matang untuk “apa yang seharusnya saya kejar agar menutup ketertinggalan saya”.

Jika meresapi kata-kata dari Chairil Anwar,”Hidup adalah perbuatan”,maka menurut saya yang paling utama adalah “bagaimana agar saya berbuat,seperti layaknya individu yang produktive”.berbuat hanyalah ujung dari sebuah proses pemikiran,jika kita ingin berbuat dengan benar,maka kita harus berpikir dengan benar dulu,sehingga yang paling ujung adalah mengubah pola pikir saya yang selama 20 tahun ini sombong,dan merasa diri paling pintar,padahal orang-orang di sekililing saya telah melangkah sedemikian jauhnya.pemikiran saya,telah melenakan saya.

Mengubah pikir adalah dengan mengubah apa yang menjadi minat diri,dan apa yang kita baca ,seharusnya saya bisa lebih terbuka dengan perkembangan dunia luar,tidak terpaku pada dunia yang saya minati,jika sudah seperti ini,maka diri saya juga yang akan rugi….

Semangat…..semangat….kejar kertinggalan……

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jalan Keluar

Setiap manusia yang ada di dunia,pastilah memiliki masalah,baik itu orang terkaya di dunia,sperti Carlos Slim ato Waren Buffet,pastilah memiliki masalah,apalagi kita-kita yang warga “dunia ketiga”.Masalah di di dinamika kehidupan ini ,disadari atau tidak adalah “berkah” dariNya,karena dengan adanya masalah lah kita menjadi berpikir dan bergerak untuk mencoba mencari-cari solusi nya.Namun kita akui pula,bahwa tidak ada dari diri kita yang memang benar-benar mencintai masalah.Masalah kita perlukan,namun kita tidak perlu untuk mencintai masalah.

Keluar dari masalah,hanya ada satu jalan,yaitu HADAPI MASALAH TERSEBUT.kita tidak bisa lari,apa lagi bunuh diri.Hadapi,setiap masalah yang ada ,lalu cari lah solusi-solusi kecil,solusi-solusi yang dimulai dari yang paling anda bisa,sehingga dari kumpulan solusi-solusi tersebut,anda akan mampu mengatasi masalah-masalah yang berat.menurut anda?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tim Uber Indonesia Patahkan Keraguan

Ekspressi Pemain tunggal ketiga, Pia Zebadiah, menjadi penentu kemenangan tim Uber Indonesia atas Jerman dengan mengalahkan Karin Schnaase, 21-7, 21-16, Kamis (15/5) di Istora Senayan, Jakarta. Pia dibopong rekan-rekannya seusai pertandingan. Jumat, 16 Mei 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas – Susy Susanti tersenyum lega. Ekspresi tegang pada wajahnya berubah menjadi senyuman yang selalu ditebarnya begitu shuttlecock dari drop shot Pia Zebadiah tak bisa dikembalikan pemain Jerman, Karin Schnaase.

Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (15/5) malam, gemuruh oleh sorak-sorai sekitar 8.000 penonton yang merayakan kemenangan 3-1 Indonesia atas Jerman. Untuk pertama kalinya sejak 1998, tim Uber Indonesia ke final.

Di final yang berlangsung Sabtu besok, Indonesia akan melawan China yang mengalahkan Korea Selatan (Korsel), juga dengan skor 3-1.

Semangat pantang menyerah semasa menjadi atlet ditularkan Susy kepada adik-adiknya. Putri-putri pelatnas Cipayung mematahkan pendapat yang meragukan kemampuan mereka. Apalagi, tim Uber Indonesia gagal tampil pada putaran final di Jepang tahun 2006.

Maka, perayaan kemenangan atas Jerman pun sudah seperti perayaan menjadi juara. Semua anggota tim Uber berbaris di lapangan untuk memberi salam kepada penonton.

Pemain ganda Greysia Polii, yang bersama Jo Novita menyumbangkan angka kedua bagi Indonesia, merayakannya sambil dipanggul pelatih fisik Jason Kurfurst. Adapun Adriyanti Firdasari, yang menyamakan skor menjadi 1-1 setelah Maria Kristin kalah, menghampiri sang ibu di pinggir lapangan.

Kini, Pia dan kawan-kawan tinggal selangkah lagi mengulang prestasi yang dicapai Susy pada tahun 1994. Di Istora, 14 tahun lalu, Indonesia meraih Piala Uber ketika diperkuat Susy Susanti, Yuliani Santosa, Mia Audina, Lili Tampi/ Finarsih, dan Eliza nathanael/Zelin Resiana.

”Kami selama ini diremehkan orang. Kami ingin buktikan bahwa kami bisa. Memang kami hanya ditargetkan masuk semifinal, tetapi kami juga punya keinginan masuk final, dan itu bukan beban bagi kami,” tegas Firda.

Hari ini tim Thomas Indonesia akan tampil di semifinal melawan Korsel. Sejak terakhir kali juara di Guangzhou 2002, tim Thomas Indonesia belum pernah tampil di final lagi. (ink/bil/was/iya)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perizinan Usaha dan Investasi

Oleh Frida Rustiani

Indonesia, salah satu negara dengan proses perizinan paling kompleks, lama, dan korup di Asia. Birokrasi perizinan yang rumit menyebabkan 80 persen pelaku usaha domestik tetap informal atau tidak berizin. Sebagai respons atas situasi itu, 18 kota/kabupaten di berbagai provinsi secara serentak menyelenggarakan layanan perizinan massal yang berpuncak pada Selasa, 1 April 2008.

Acara yang dilaksanakan di Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PPTSP) di setiap daerah itu diresmikan secara simbolis di Kota Cimahi oleh Menteri Perdagangan Mari E Pangestu yang diwakili Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Ardiansyah Parman.

Melalui kegiatan gebyar layanan perizinan massal, pelaku usaha dapat memperoleh pelayanan izin usaha secara mudah, murah, dan cepat. Dalam acara tersebut, lebih dari 13.000 dokumen diterbitkan, 10.000 di antaranya Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). Sebanyak 48 persen yang memperoleh izin adalah perempuan. Masyarakat juga mendapatkan informasi dan bahkan melakukan akad kredit dengan perbankan, mendapatkan nomor pokok wajib pajak (NPWP), serta layanan pengembangan usaha.

Hernando deSoto, penggagas pelayanan formalisasi massal, mengawali ide ini dengan temuan bahwa ketiadaan bukti-bukti dan izin resmi atas aset dan usaha warga negara menyebabkan dead capital. Dengan kata lain, kapitalisasi hanya dapat optimal terjadi apabila memenuhi syarat-syarat formal usaha. Ironisnya, walaupun begitu penting, syarat formal ini sering kali tidak mudah diperoleh. Dari sinilah gagasan memberikan layanan formalisasi massal yang mudah dan murah muncul.

Reformasi yang bergulir sejak tahun 1998 lebih banyak terjadi di bidang politik. Spirit reformasi masih diangankan untuk menyambangi bidang ini. Demokrasi bidang politik yang mulai tumbuh seiring dengan reformasi yang terjadi ternyata belum mampu menjadi pendongkrak demokrasi di bidang ekonomi.

Contoh produk reformasi yang belum berjalan lurus dengan pertumbuhan ekonomi daerah, misalnya, pemilihan kepala daerah. Harapan bahwa dengan pemilihan langsung, pimpinan daerah akan lebih mengerti dan memiliki komitmen penuh terhadap pengembangan (ekonomi) daerah juga tidak sepenuhnya terbukti. Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai wujud dari tuntutan untuk mengatasi korupsi cukup berhasil membawa para koruptor ke meja hijau meskipun juga belum secara nyata menunjukkan kontribusinya terhadap perbaikan iklim usaha.

Belakangan justru banyak investor yang lari. Alasan terlalu banyaknya beban pungutan, terutama pungutan liar, yang harus ditanggung dunia usaha, masih kerap muncul sebagai alasan hengkangnya perusahaan asing dan tutupnya usaha lokal.

Perizinan di Indonesia

Beberapa isu dalam perizinan di Indonesia dapat dikelompokkan sebagai berikut: Pertama, kebijakan yang tumpang tindih dan kurang konsisten menyebabkan ketidakpastian berusaha. Over regulation dan inkonsistensi yang terjadi sering kali menimbulkan tidak adanya kepastian hukum, selain beban biaya, sehingga tindakan dan prediksi rasional menjadi sulit untuk dilakukan. Kedua, kelembagaan, terlalu banyak lembaga yang terlibat tanpa disertai dengan koordinasi yang memadai menyebabkan birokrasi yang tidak efisiensi. Ketiga, korupsi, jelas secara langsung menyebabkan ekonomi biaya tinggi.

Ironisnya, korupsi hampir selalu muncul dalam setiap bentuk pelayanan publik, khususnya perizinan.

Struktur perizinan usaha di Indonesia telah menjelma menjadi rezim yang besar, kuat, dan berkuasa. Struktur ini membuat perizinan di Indonesia termasuk paling panjang dan mahal di dunia. Studi Asia Foundation di lima kota/kabupaten di Indonesia, misalnya, menunjukkan bahwa rata-rata waktu untuk memperoleh HO, TDP, SIUP mencapai 107 hari dengan biaya mencapai Rp 931.000. Situasi ini membuat peringkat daya tarik investasi Indonesia merosot ke urutan 123. (World Bank, Doing Business Report, 2008).

Di Bojonegoro, Jawa Timur, seorang petani yang hendak mengembangkan usaha pembibitan jati emas di atas tanah seluas 4 hektar terpaksa membatalkan rencananya. Total biaya untuk mengurus izin yang harus dikeluarkannya mencapai Rp 50 juta. Padahal modal untuk usaha ini sekitar Rp 200 juta. Artinya, 25 persen dari modal yang dimilikinya digunakan untuk mengurus izin. Sungguh tak masuk akal. Jangan ditanya dari mana angka 50 juta ini muncul, ya ini merupakan penjumlahan nominal dari tiga masalah besar di atas.

Bayangkan sedikitnya 100 orang—25 pekerja plus keluarganya—yang mestinya akan mendapatkan manfaat dari usaha ini.

”One stop service”

Berkembangnya inisiatif untuk mengintegrasikan pelayanan perizinan dalam satu otoritas yang terintegratif memunculkan harapan baru yang dapat memberikan ”layanan dasar” bagi pelaku usaha. Keunggulan pelayanan satu tempat satu ”pintu” adalah bahwa pelaku usaha tidak perlu berkeliling ke berbagai instansi untuk mendapatkan izin. Pemohon juga tidak perlu bertemu dengan banyak orang, yang selama ini ditengarai sebagai penyebab ekonomi biaya tinggi.

Pada semua one stop service (OSS), karena seluruh pelayanan perizinan berada dalam satu tempat satu pintu, transparansi memungkinkan untuk dilakukan. Informasi mengenai proses dan segala prasyarat dapat secara memadai disediakan. Sebelumnya, meskipun informasi ini ada, terpecah-pecah untuk setiap izin, selain tersebar di berbagai instansi.

OSS terbukti menjadi terobosan baru dalam meng- atasi kendala perizinan di Indonesia.

Sejak awal tahun 2000-an sejalan dengan era desentralisasi, telah banyak PPTSP didirikan untuk kemudahan perizinan. OSS terbukti mampu mengurangi waktu pelayanan sampai 60 persen serta biaya sampai dengan 30 persen. Dukungan bagi pengoptimalan OSS masih sangat dibutuhkan untuk mencapai tingkat efisiensi setinggi mungkin.

Penciptaan kelembagaan sudah saatnya menjadi pilihan strategis dalam penciptaan iklim usaha yang lebih kondusif. Negara-negara dengan performance kelembagaan yang kuat memiliki bukti-bukti hubungan yang jelas dengan tingkat pertumbuhan dan investasi yang tinggi. Kelembagaan yang kuat menjadi prasyarat bagi segala rupa reformasi bila hendak mencapai tingkat yang optimal.

Frida Rustiani Economic Program Officer The Asia Foundation

Posted in Uncategorized | Leave a comment