INDONESIA MENATAP MASA DEPAN

Dimanakah posisi bangsa Indonesia di mata dunia di masa depan?,apakah kita akan sampai seperti yang di gambarkan pada Visi Indonesia 2030? atau semakin terpuruk lalu menjadi negara gagal?

Sikap optimis memang wajib dimiliki oleh setiap dari warga Indonesia,namun jika optimisme tersebut tidak memiliki landasan yang kuat,saya takut,kita hanya akan menjadi negara pemimpi,namun dari hasil pengamatan saya tentang kekisruhan di beberapa pilkada,illegal logging,korupsi,penetrasi narkoba yang luas,kualitas pendidikan,infrastruktur,pola hidup yang sangat konsumtive sebagian masyarakat kita,hingga ketidakmampuan elit-elit politik kita dalam berpikir strategis untuk memecahkan masalah-masalah bangsa,saya merasa Visi Indonesia 2030 hanyalah mimpi,dan bangsa kita benar-benar dalam kondisi menuju keterpurukan yang lebih dalam.

Kita harus mengakui bahwa selama enam dekade lebih kemerdekaan kita,kita telah gagal untuk berubah dari bangsa yang terjajah,menjadi bangsa yang merdeka,dan tragisnya kegagalan-kegagalan kita di hampir setiap sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.Prilaku elit partai dan sebagian dari masyarakat kita saat ini masih sama dengan gambaran yang di tulis oleh Brian May pada buku The Indonesian Tragedy,sebuah buku yang di terbitkan lebih dari tiga dekade lalu atau satu generasi.

Dalam bukunya,Brian May menulis bahwa orang Indonesia pada dasarnya ingin hidup conspicious comsumtive(konsumtif yang menyolok),A Sensous People( mudah melepaskan hawa nafsu).dan tidak memiliki disiplin diri,buku ini dilarang penjualannya di Indonesia,karena memang sangat menyinggung perasaan kita sebagai orang Indonesia,namun jika kita mau jujur pada diri kita sendiri,apa yang di tulis oleh Brian May sebenarnya adalah sebuah kenyataan tentang karakter kita pada umumnya

Sebuah Awal Dari Akhir

Bukanlah investor asing yang mampu mengangkat bangsa ini dari keterpurukan,bukan pula dana pinjaman hingga milyaran dollar,akan tetapi diri kita dengan mental yang baru yang dapat mengangkat bangsa kita.karena permasalan utama dari bangsa kita adalah mental yang lemah,ingin cepat kaya namun tidak ingin kerja keras,ingin menjadi negara industri yang maju namun pendidikan di gadaikan,dan rasa rendah diri di depan bangsa asing.

Dan jalan utama dalam mengubah mental bangsa adalah lewat jalur pendidikan,bukan sekedar pendidikan dasar hingga SMP,akan tetapi pendidikan tinggi,hal ini karena saat ini persaingan industri adalah juga persaingan human capital,paradigma upah buruh yang rendah sebagai faktor daya saing kita,sudahlah usang,saingan kita saat ini bukanlah lagi Malaysia,Thailand,Philipina,atau bahkan Vietnam,akan tetapi Bangladesh,Sri Langka dan sebagian negara-negara di Afrika dan Amerika Latin.

Jika kita saat ini kembali gagal dalam membangun kualitas manusia Indonesia,bukanlah hal yang tidak mungkin pada tahun 2030 saingan kita adalah Sudan,Somalia,Zimbagwe,dan Chad.Kita harus bisa berpikir “Untuk Kemajuan Indonesia Bersama”,bukan “Untuk kemajuan Kelompok Saya”,karena yang merebut kemerdekaan bangsa Indonesia bukalah kelompok tertentu,atau suku tertentu,sehingga kita tidaklah berhak merasa yang paling berhak,dan yang paling benar

Mentalitas kita yang malas,Over konsumtif,jalan pintas,dan tidak berpikir jangka panjang harus lah kita jadikan musuh pribadi setiap diri kita masing-masing,dan menjadikan kemiskinan,kebodohan, egoisme serta fanatisme yang sempit terhadap tokoh atau kelompok menjadi musuh bersama.Kita adalah pewaris kemedekaan yang telah direbut oleh orang tua-orang tua kita,dan akan sangat bodoh sekali jika mentalitas kita kembali pada egoisme kelompok atau tokoh seperti yang terjadi di sebelum tahun 1908,karena kebangkitan nasional Indonesia tidaklah di dapat dari egoisme sempit,akan tetapi karena adanya rasa senasib sepenanggungan akibat di jajah

Musuh Bersama, Bukan “Sama-Sama Musuh”

Setelah kita menyadari inti permasalahan bangsa kita, dan merumuskan musuh bersama,yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah konsolidasi nasional dari seluruh element-element bangsa,konsolidasi di sini bukan untuk memutuskan “Siapa yang akan memimpin” akan tetapi mencari sisi terbaik dari kita dan sisi terburuk dari kita,lalu bersama-sama berjuang untuk membuang sisi terburuk dari kita secara terorganisir dan terencana

Dan tentu saja,konsolidasi seperti ini hanya akan bisa terjadi dan terwujud,jika elit-elit politik kita mau meletakan nafsu kekuasaan dan ego dirinya, di bawah kepentingan nasional,Para elit partai kita harus kembali belajar dari para pendahulu-pendahulunya seperti Ir Sukarno,DR Muhammad Hatt,dan yang lainya,karena jika mereka pada saat itu tidak mampu meletakan ego diri dan nafsu kekuasaanya dan memilih untuk menjadi pegawai di pemerintahan penjajah,bisa jadi pada tahun 1945 bukanlah tahun di saat kita merdeka.

Sekarang kita bisa melihat hasil pengorbanan pahlawan-pahlawan kita,dan menganggap mereka adalah pemimpin-pemimpin bangsa,dari sini kita bisa melihat bahwa seorang pemmpin bukanlah dia yang paling cerdas,atau yang paling bisa memberi komentar-komentar,seorang pemimpin adalah ia yang mampu berpikir besar dan jauh kedepan,sehingga ia rela untuk mengorbankan ego nya demi kepentingan bangsa

Advertisements

About imran273

Hanya pria biasa :)
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s